Feb 23 2009

Membaca “Teks” karya Desain Komunikasi Visual

Oleh Kismiaji, S.Sn.
Surabaya, 28 Januari 2009

Semiotika Komunikasi Visual
Berbicara fungsi dan kegunaan semiotika dalam Desain Komunikasi Visual, semiotika sebagai ilmu memiliki fungsi ganda untuk menciptakan sebuah karya (encoding) sekaligus dapat pula digunakan sebagai “alat” untuk menganalisis (decoding) dan pembongkaran makna di balik pesan dalam karya DKV.

Sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu tentang tanda (the science of sign) semiotika memiliki prinsip, sistem dan prosedur kelimuan khusus dan baku, tetapi tidak dapat disesjajarkan dengan ilmu alam (natural science) yang menuntut ukuran pasti untuk menghasilkan pengetahuan objektif sebagai sebuah kebenaran tunggal tetapi semiotika dibangun oleh pengetahuan yang lebih terbuka bagi beragam interpretasi.

Semiotika mengajarkan makna jamak (polysemy) yang memiliki karakter dinamis, lentur dan terbuka bagi pembacaan dan interpretasi yang diukur dari derajat kelogisannya berdasar pada interpretasi lebih masuk akal.

Melihat karya DKV dengan kaca mata semiotika dia (baca: karya DKV) memiliki sistem semiotika yang khusus dengan perbendaharaan tanda (vocabulary) dan sintaks (sintagm) yang khas. Di dalam sistem semiotika komunikasi visual melekat fungsi komunikasi, yaitu fungsi tanda dalam menyampaikan pesan (message) dari pengirim (sender) kepada penerima (receiver) tanda berdasar aturan (kode-kode) tertentu. Meskipun fungsi utama adalah fungsi komunikasi tetapi bentuk-bentuk komunikasi visual juga mempunyai signifikasi (signification), dimana penanda (signifier) yang bersifat kongkrit dimuati konsep-konsep abstrak (makna) atau yang umum disebut sebgai petanda (signified).

Komunikasi visual menurut AD. Pirous pada hakekatnya adalah bahasa. Tugas utamanaya adalah membawakan pesan dari seseorang, lembaga atau kelompok masyarakat tertentu kepada orang lain. Dalam karya DKV terdapat dua pesan sekaligus yaitu pesan verbal dan pesan visual yang keduanya dianggap sebagai sebuah teks dan konteks fenomena kebahasaan. Pengungkapan pesan verbal dan visual pada dasarnya adalah untuk dilihat (dibaca) sebagai teks yang menggunakan berbagai istilah yang terdapat dalam bahasa yang selalu terkait dengan konteks tertentu. Di sinilah peran teks dan konteks menciptakan makna. Ketika teks verbal dan konteks visual dihasilkan dari pengetahuan bersifat rasional, dan pragmatis yang senantiasa dipengaruhi oleh gerak dan perubahan di dalam sistem sosial dan ekonomi yang melingkupi, maka mau tidak mau sebuah pesan dalam karya Desain Komunikasi Visual akan selalu mengikuti pola dasar ideologi yang ada di balik pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak sebagai sebuah konsumsi massa bisa bersifat konstrukstif atau sebaliknya bisa juga bersifat destruktif.

Evolusi kenetralan proses komunikasi dalam karya DKV menjadi sebuah agenda setting terslubung dari media massa merupakan bentuk abstrak yang harus “dibaca” oleh setiap orang dengan kaca mata yang tepat (baca:semiotika). Karena Pada dasarnya ketika kita melihat berbagai bentuk pesan verbal dan visual sesungguhnya kita telah membaca hal-hal yang kita lihat bahkan yang kita dengar sehingga arti di balik tanda hingga makna ideologinya.

Maka pembongkaran teks (karya DKV) sebagai bacaan sehari-hari masyarakat modern dengan tanda dan pesan yang terkadang bersifat manipulatif terhadap “konsumen” harus dilakukan. Tentu saja hal ini dapat dilihat hubungan struktural yang diungkapkan oleh tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh acuannya. Dan hasilnya bagaimana tanda tersebut berfungsi membawa muatan ideologi pada saat rekontruksi tanda terjaadi pada sebuah karya DKV.

“Membaca” berbagai teks budaya, termasuk karya DKV yang disebarluaskan di berbagai media sebagai sarana promosi dan penjualan produk dan jasa adalah kewajaran yang harus dan biasa dilakukan oleh siapa saja, sehigga dari sini seseorang akan dapat memilih dan memilah terhadap pesan-pesan persuasif yang positif di alam komunikasi masyarakat modern saat ini.

Daftar Pustaka

Amir Piliang, Yasraf, ,Hiper Semiotika : Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003
Amir Piliang, Yasraf, Dunia Yang Dilipat tamasya melampaui batas-batas kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004.
Barthes, Roland, S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang 1974
Budiman, Kris, Semiotika Visual, Yogyakarta, Buku Baik dan Yayasan Seni Cemeti, 2004.
Fiske, John, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.
Sobur, Alex , Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik, Dan Analisis Framing, PT. Remaja Rosda Karya Offset, Bandung,
2006.
Tinarbuko, Sumbo, Semiotika Komunikasi Visual, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.


Feb 5 2009

Membaca “Teks” Desain Komunikasi Visual #1

Oleh Kismiaji, S.Sn.
Surabaya, 28 Januari 2009

Tugas seorang cendekiawan justru adalah menjadikan semiotika sebagai suatu metode untuk menegakkan yang hak dan mendekonntruksi yang bathil
(Yasraf Amir Piliang, Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004, hlm. 327.)

Semiotika Komunikasi Visual

Berbicara fungsi dan kegunaan semiotika dalam Desain Komunikasi Visual, semiotika sebagai ilmu memiliki fungsi ganda untuk menciptakan sebuah karya (encoding) sekaligus dapat pula digunakan sebagai “alat” untuk menganalisis (decoding) dan pembongkaran makna di balik pesan dalam karya DKV.

Sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu tentang tanda (the science of sign) semiotika memiliki prinsip, sistem dan prosedur kelimuan khusus dan baku, tetapi tidak dapat disesjajarkan dengan ilmu alam (natural science) yang menuntut ukuran pasti untuk menghasilkan pengetahuan objektif sebagai sebuah kebenaran tunggal tetapi semiotika dibangun oleh pengetahuan yang lebih terbuka bagi beragam interpretasi.

Semiotika mengajarkan makna jamak (polysemy) yang memiliki karakter dinamis, lentur dan terbuka bagi pembacaan dan interpretasi yang diukur dari derajat kelogisannya berdasar pada interpretasi lebih masuk akal.

Melihat karya DKV dengan kaca mata semiotika dia (baca: karya DKV) memiliki sistem semiotika yang khusus dengan perbendaharaan tanda (vocabulary) dan sintaks (sintagm) yang khas. Di dalam sistem semiotika komunikasi visual melekat fungsi komunikasi, yaitu fungsi tanda dalam menyampaikan pesan (message) dari pengirim (sender) kepada penerima (receiver) tanda berdasar aturan (kode-kode) tertentu. Meskipun fungsi utama adalah fungsi komunikasi tetapi bentuk-bentuk komunikasi visual juga mempunyai signifikasi (signification), dimana penanda (signifier) yang bersifat kongkrit dimuati konsep-konsep abstrak (makna) atau yang umum disebut sebgai petanda (signified).

Komunikasi visual menurut AD. Pirous pada hakekatnya adalah bahasa. Tugas utamanaya adalah membawakan pesan dari seseorang, lembaga atau kelompok masyarakat tertentu kepada orang lain. Dalam karya DKV terdapat dua pesan sekaligus yaitu pesan verbal dan pesan visual yang keduanya dianggap sebagai sebuah teks dan konteks fenomena kebahasaan. Pengungkapan pesan verbal dan visual pada dasarnya adalah untuk dilihat (dibaca) sebagai teks yang menggunakan berbagai istilah yang terdapat dalam bahasa yang selalu terkait dengan konteks tertentu. Di sinilah peran teks dan konteks menciptakan makna. Ketika teks verbal dan konteks visual dihasilkan dari pengetahuan bersifat rasional, dan pragmatis yang senantiasa dipengaruhi oleh gerak dan perubahan di dalam sistem sosial dan ekonomi yang melingkupi, maka mau tidak mau sebuah pesan dalam karya Desain Komunikasi Visual akan selalu mengikuti pola dasar ideologi yang ada di balik pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak sebagai sebuah konsumsi massa bisa bersifat konstrukstif atau sebaliknya bisa juga bersifat destruktif.

Evolusi kenetralan proses komunikasi dalam karya DKV menjadi sebuah agenda setting terslubung dari media massa merupakan bentuk abstrak yang harus “dibaca” oleh setiap orang dengan kaca mata yang tepat (baca:semiotika). Karena Pada dasarnya ketika kita melihat berbagai bentuk pesan verbal dan visual sesungguhnya kita telah membaca hal-hal yang kita lihat bahkan yang kita dengar sehingga arti di balik tanda hingga makna ideologinya.

Maka pembongkaran teks (karya DKV) sebagai bacaan sehari-hari masyarakat modern dengan tanda dan pesan yang terkadang bersifat manipulatif terhadap “konsumen” harus dilakukan. Tentu saja hal ini dapat dilihat hubungan struktural yang diungkapkan oleh tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh acuannya. Dan hasilnya bagaimana tanda tersebut berfungsi membawa muatan ideologi pada saat rekontruksi tanda terjaadi pada sebuah karya DKV.

“Membaca” berbagai teks budaya, termasuk karya DKV yang disebarluaskan di berbagai media sebagai sarana promosi dan penjualan produk dan jasa adalah kewajaran yang harus dan biasa dilakukan oleh siapa saja, sehigga dari sini seseorang akan dapat memilih dan memilah terhadap pesan-pesan persuasif yang positif di alam komunikasi masyarakat modern saat ini.

Daftar Pustaka

Amir Piliang, Yasraf, ,Hiper Semiotika : Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003

Amir Piliang, Yasraf, Dunia Yang Dilipat tamasya melampaui batas-batas kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004.

Barthes, Roland, S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang 1974

Budiman, Kris, Semiotika Visual, Yogyakarta, Buku Baik dan Yayasan Seni Cemeti, 2004.

Fiske, John, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.

Sobur, Alex , Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Dan Analisis Framing, PT. Remaja Rosda Karya Offset, Bandung, 2006.

Tinarbuko, Sumbo, Semiotika Komunikasi Visual, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.


Feb 5 2009

Membaca “Teks” Desain Komunikasi Visual #2

Memahami Teks dalam Karya Desain Komunikasi Visual


Membaca karya-karya DKV sebagai sebuah teks, tentu saja kita harus memahami apa yang disebut dengan ”teks” itu sendiri.

Dalam teori bahasa apa yang dinamakan teks tidak lebih dari himpunan huruf yang membentuk kata dan kalimat yang dirangkai dengan sistem tanda dengan sistem tanda yang disepakati oleh masyarakat sehingga sebuah teks ketika dibaca bisa mengungkapkan makna yang dikandungnya.

Melihat lebih dalam lagi sebuah teks pada dasarnya tidak dapat dilepaskan sama sekali dari teks yang lain. Teks dalam pengertian umum adalah dunia semesta ini, bukan hanya teks tertulis atau teks lisan. Adat istiadat, kebudayaan film drama secara umum adalah teks.

Secara alamiah seseorang ketika menulis apapun sering melakukan kutipan-kutipan dari tulisan dan pendapat orang lain yang dianggap sesuai dengan pemikirannya. Begitupun sebuah teks, dia lahir dari teks-teks lain yang harus dipandang sesuai dengan tempatnya pada kawasan tekstual. Inilah yang disebut sebagai intertekstual.2 Istilah intertektualitas pertama kali diperenalkan oleh Julia Kristeva, seorang pemikir poststrukturalis Perancis dalam bukunya Revolution in Poitic Language dan Desire in Language: A Semiotic Approach To Literature And Art. Kristeva melihat bahwa satu teks atau karya seni tidak berdiri sendiri, tidak mempunyai landasan atau kriteria dalam dirinya—tidak otonom. Mengambil inspirasi dari konsep Dialogis Mikhail Bakhtin, Kristeva menjelaskan kesaling ketergantungan satu teks dengan teks-teks sebelumnya. Teks bagi Kristeva adalah sebuah permainan dan mosaik kutipan-kutipan, dari teks-teks yang mendahuluinya, sebagaimana yang dikemukakakan olehnya ” di dalam ruang teks tersebut, beranekaragaman ungkapan-ungkapan , yang diambil dari teks-teks lain, silang menyilang dan saling menetralisir satu sama lain”. (Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, jalsutra , Yogyakarta, 2003, hlm. 123)

Jika Kristeva memandang teks sebagai sesuatu yang tidak otonom tetapi bagi Barthes Teks adalah sebuah objek kenikmatan, sebagimana diproklamsikan dalam buku Sade/Fourir? Loyola: the text is an object of pleasure. Kenikmatan yang dimaksud adalah bukanlah pembacaan biasa. Kenikmatan di sini adalah kenikmatan atas teks atau naskah. Dalam hal ini Barthes mengunggulkan bahasa atas apapun.

Barthes membaca kembali dan berulang-ulang sebuah teks dengan memotong-motongnya dan menyusunnya kembali, yang menjadi kontruksi utama dalam semiologi dan anlisis tekstual atau analisis struktural.

Meminjam teks dalam teori wacana (teks dan konteks), teks diartikan sebagai semua bentuk bahasa bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas tetapi jenis semua ekspresi komunikasi, ucapan musik, gambar, efek suara, citra dan sebagainya.3 Sedangkan konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti; partisipan bahasa dalam bahasa, situasi di mana teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan dan sebagainya.

Kita dapat mengambil contoh misalnya wajah yang ramah adalah konteks pernyataan yang ramah yang dapat di intepretasi dengan mudah. Atau lebih ekstrim kita dapat mengambil sebuah kata ”anjing”. Ketika sebuah kata anjing kita rangkai dalam sebuah kalimat misalnya anjing berlari di rerumputan akan Berbeda makna ketika anjing diungkapkan dengan nada marah di depan seseorang ”anjing kamu”, di sinilah konteks pada sebuah teks memberikan makna berbeda berdasar konteksnya.

Begitupun apabila kita melihat sebuah karya DKV seperti iklan misalnya, selalu menampilkan objek yang diiklankan, teks (verbal) dan konteks dalam tampilannya. Teks dapat diartikan tulisan yang ada dan konteks bisa diterjemahkan sebagai gambar atau ilustrasi yang mendukung termaknainya sebuah pesan. Kita dapat mengambil sebuah contoh dari iklan rokok yang sesungguhnya sebagai salah satu penyebab impotensi, ketika produk dikaitkan dengan simbol-simbol keberanian dan kejantanan maka makna “merokok” secara denotataif menyebabkan penyakit berubah makna paradoks menjadi sebuah nilai prestise dan kebanggaan bagi perokok.

Memahami karya DKV yang di dalamnya menyimpan berbagai pesan informasi tentang sebuah produk atau intansi dan jasa merupakan usaha ”pembacaan” terhadap teks atau tanda yang mengandung makna tertentu. Jadi teks dalam hal ini adalah segala tipe tanda yang ada pada sebuah karya Desain Komunikasi Visual baik verbal ataupun visual bahkan audio. Ketika dikaitkan dengan konteks budaya dan segala sesuatu yang melingkupinya dari sinilah pembacaan secara mendalam diperlukan sebagai usaha mencari makna dibalik pesan yang disampaikan.

Pembacaan terhadap karya DKV merupakan bagian dari proses komunikasi, pembaca disebut sebagai komunikan yang menerima pesan yang ditransmisikan dari sumber pesan (source) melalui media Yang dipilih untuk oleh desainer. Dalam hal ini pengirim (desainer yang mewakili klien/intansi) mengkontruksi pesan (encode) dengan karya DKV yang dihasilkan dan penerima menerjemahkan pesan (decode) karya visual yang ada di hadapannya sebagai pesan yang memiliki makna tertentu.

Memahami komunikasi meminjam asumsi John Fiske dalam Cultural and Communication Studies, menyatakan bahwa semua komunikasi melibatkan tanda (sign) dan kode (codes). Tanda adalah artefak atau tindakan yang merujuk pada sesuatu pesan yang lain di luar tanda itu sendiri: yakni tanda menandakan konstruk.

Sedangkan Kode adalah sistem dimana tanda-tanda diorganisasikan dan menentukan bagaimana tanda-tanda itu berhubungan satu sama lain.4 Contoh dalam kehidupan sehari-hari kita misalnya lampu merah sebagai contoh pengorganisasian tanda ke dalam kode. Dalam pandangan semiologi milik Saussure rambu lalu lintas adalah bentuk paradigma (kumpulan tanda) yang dipergunakan secara sintagmatik menjadi susunan tanda yang terpadu dan dipilih untuk dipergunakan dalam sistem kode (konvensi).5

Dari sinilah pemahaman bahwa Komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna, bagaimana pesan atau teks berinteraksi dengan orang lain dalam rangka menghasilkan makna. Pesan dalam pemahaman semiotika merupakan suatu kontruksi tanda yang lain, melalui interaksinya dengan penerima yang kemudian menghasilkan makna. Pengirim didefinisikan sebagai transmiter pesan yang memiliki pengaruh lebih rendah daripada ”teks” yang dibaca. Dan ”membaca” adalah proses menemukan makna yang terjadi ketika pembaca berinteraksi dan bernegoisasi dengan teks. Negoisasi ini terjadi karena “pembaca” membawa aspek-aspek pengalaman budayanya untuk berhubungan dengan kode dan tanda yang menyusun “teks”.

Pembacaan seseorang terhadap karya DKV terlepas dari teknik dan metode pembuatanya secara estetik, dipengaruhi oleh pengalaman empirik dan pegetahuan terkait dengan konteks saat karya DKV diproduksi.

Dalam pandangan Peirce kita dikenalkan pertandaan dengan unsur makna terdiri dari objek, tanda (representamen) dan interpretan. Dalam karya DKV dapat diklasifikasikan bahwa karya DKV merupakan representement yang ketika dibaca akan memunculkan interpretan yaitu efek pertandaan; konsep mental yang dihasilkan oleh tanda maupun pengalaman pengguna terhadap objek.

Contoh misalnya kita melihat tanda ”gambar mawar” yang merekah maka akan tebentuk proses tiga tingkatan (three-fold process)6 di antara representamen, objek, interpretan yang dikenal sebagai proses semiosis.

Sedangkan Karya DKV sendiri apabila dikaitkan dengan tipologi tanda menurut Peirce (ikon, indeks dan simbol), maka KARYA DKV adalah rangkaian dari tipe tanda berupa ikon indeks dan simbol. Ikon merupakan tipe tanda berupa ikon yang sama persis dengan realitas. Indeks merupakan hubungan tanda yang terkait dengan hukum sebab akibat dengan apa yang diwakilinya atau disebut sebagai tanda bukti, misalnya adanya hujan pasti ada mendung sebelumnya. sedangkan simbol adalah tanda berdasarkan konvensi atau perjanjian yang telah disepakati bersama misalnya lambang garuda di Indonesia dipahami sebagai lambang negara, berbeda dengan Orang Eskimo memahami garuda hanya sebagai burung elang biasa.

Memahami makna setiap tanda budaya yang muncul sebagai fenomena bahasa termasuk karya DKV sebagai sebuah bentuk teks budaya yang terkait dengan konteksnya (Roland Barthes menyebutnya sebagai semiologi) merupakan sebuah kewajaran ketika seseorang berusaha mengamati (membaca) sebuah karya visual. Membaca karya DKV merupakan proses menemukan makna yang terjadi ketika sebuah teks (berupa tanda-tanda) dikaitkan dengan aspek-aspek budaya. Di sini kode dan tanda yang menyusun karya DKV sebagai sebuah ”teks” yang bisa dibaca.

Daftar Pustaka

Amir Piliang, Yasraf, ,Hiper Semiotika : Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003

Amir Piliang, Yasraf, Dunia Yang Dilipat tamasya melampaui batas-batas kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004.

Barthes, Roland, S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang 1974

Budiman, Kris, Semiotika Visual, Yogyakarta, Buku Baik dan Yayasan Seni Cemeti, 2004.

Fiske, John, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.

Sobur, Alex , Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Dan Analisis Framing, PT. Remaja Rosda Karya Offset, Bandung, 2006.

Tinarbuko, Sumbo, Semiotika Komunikasi Visual, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.


Feb 5 2009

Membaca “Teks” Desain Komunikasi Visual#1

Semiotika Komunikasi Visual
Berbicara fungsi dan kegunaan semiotika dalam Desain Komunikasi Visual, semiotika sebagai ilmu memiliki fungsi ganda untuk menciptakan sebuah karya (encoding) sekaligus dapat pula digunakan sebagai “alat” untuk menganalisis (decoding) dan pembongkaran makna di balik pesan dalam karya DKV.

Sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu tentang tanda (the science of sign) semiotika memiliki prinsip, sistem dan prosedur kelimuan khusus dan baku, tetapi tidak dapat disesjajarkan dengan ilmu alam (natural science) yang menuntut ukuran pasti untuk menghasilkan pengetahuan objektif sebagai sebuah kebenaran tunggal tetapi semiotika dibangun oleh pengetahuan yang lebih terbuka bagi beragam interpretasi.

Semiotika mengajarkan makna jamak (polysemy) yang memiliki karakter dinamis, lentur dan terbuka bagi pembacaan dan interpretasi yang diukur dari derajat kelogisannya berdasar pada interpretasi lebih masuk akal.

Melihat karya DKV dengan kaca mata semiotika dia (baca: karya DKV) memiliki sistem semiotika yang khusus dengan perbendaharaan tanda (vocabulary) dan sintaks (sintagm) yang khas. Di dalam sistem semiotika komunikasi visual melekat fungsi komunikasi, yaitu fungsi tanda dalam menyampaikan pesan (message) dari pengirim (sender) kepada penerima (receiver) tanda berdasar aturan (kode-kode) tertentu. Meskipun fungsi utama adalah fungsi komunikasi tetapi bentuk-bentuk komunikasi visual juga mempunyai signifikasi (signification), dimana penanda (signifier) yang bersifat kongkrit dimuati konsep-konsep abstrak (makna) atau yang umum disebut sebgai petanda (signified).

Komunikasi visual menurut AD. Pirous pada hakekatnya adalah bahasa. Tugas utamanaya adalah membawakan pesan dari seseorang, lembaga atau kelompok masyarakat tertentu kepada orang lain. Dalam karya DKV terdapat dua pesan sekaligus yaitu pesan verbal dan pesan visual yang keduanya dianggap sebagai sebuah teks dan konteks fenomena kebahasaan. Pengungkapan pesan verbal dan visual pada dasarnya adalah untuk dilihat (dibaca) sebagai teks yang menggunakan berbagai istilah yang terdapat dalam bahasa yang selalu terkait dengan konteks tertentu. Di sinilah peran teks dan konteks menciptakan makna. Ketika teks verbal dan konteks visual dihasilkan dari pengetahuan bersifat rasional, dan pragmatis yang senantiasa dipengaruhi oleh gerak dan perubahan di dalam sistem sosial dan ekonomi yang melingkupi, maka mau tidak mau sebuah pesan dalam karya Desain Komunikasi Visual akan selalu mengikuti pola dasar ideologi yang ada di balik pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak sebagai sebuah konsumsi massa bisa bersifat konstrukstif atau sebaliknya bisa juga bersifat destruktif.

Evolusi kenetralan proses komunikasi dalam karya DKV menjadi sebuah agenda setting terslubung dari media massa merupakan bentuk abstrak yang harus “dibaca” oleh setiap orang dengan kaca mata yang tepat (baca:semiotika). Karena Pada dasarnya ketika kita melihat berbagai bentuk pesan verbal dan visual sesungguhnya kita telah membaca hal-hal yang kita lihat bahkan yang kita dengar sehingga arti di balik tanda hingga makna ideologinya.

Maka pembongkaran teks (karya DKV) sebagai bacaan sehari-hari masyarakat modern dengan tanda dan pesan yang terkadang bersifat manipulatif terhadap “konsumen” harus dilakukan. Tentu saja hal ini dapat dilihat hubungan struktural yang diungkapkan oleh tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh acuannya. Dan hasilnya bagaimana tanda tersebut berfungsi membawa muatan ideologi pada saat rekontruksi tanda terjaadi pada sebuah karya DKV.

“Membaca” berbagai teks budaya, termasuk karya DKV yang disebarluaskan di berbagai media sebagai sarana promosi dan penjualan produk dan jasa adalah kewajaran yang harus dan biasa dilakukan oleh siapa saja, sehingga dari sini seseorang akan dapat memilih dan memilah terhadap pesan-pesan persuasif yang positif di alam komunikasi masyarakat modern saat ini.


Feb 5 2009

Membaca “Teks” Desain Komunikasi Visual #3

Menemukan makna teks Desain Komunikasi Visual

Roland Barthes adalah orang pertama kali yang menyusun model skematik untuk menganalisis negoisasi dan gagasan makna interaktif antara pembaca, penulis dan teks. Ketika Saussure menekankan pada teks semata, Barthes menekankan pada cara tanda-tanda di dalam teks berinteraksi dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya dan memperhatikan konvensi pada teks yang berinteraksi dengan konvensi yang dialami. Dan inti teori Barthes adalah gagasan tentang dua tatanan pertandaan (order of signification). Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya dalam tanda adalah peran pembaca (the reader). Dalam Mithologies-nya (1983) secara tegas ia membedakan antara denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama dengan sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya, sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif Roland Barthes sangat terpengaruh dengan Saussure dengan semiologi yang kental dengan inspirasi linguistik. Dari peta Barthes dapat digambarkan bahwa tanda denotatif terdiri dari atas penanda (signifier) dan petanda (signified), akan tetapi pada saat bersamaan tanda denotatif adalah juga penanda konotatif. Denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sedangkan konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ’mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda dan tanda pada sistem pemaknaan tataran kedua.

semiologi-01

Gambar Semiologi Roland Barthes

Pada tingkatan pertama (Language) Barthes meperkenalkan signifier (1) dan signified (2), yang gabungan keduanya menghasilkan sign (3) pada tingkatan pertama. Pada tingkatan kedua, sign (3) kembali menjadi SIGNIFIER (I) dan digabungkan dengan SIGNIFIED (II) dan menjadi SIGN (III). Sign yang ada ditingkatan ke dua inilah yang berupa MYTH (mitos) disebut juga sebagai metalanguage.

Di sini dapat dikatakan bahwa Makna denotatif adalah makna yang digunakan untuk mendeskripsikan makna definisional, literal, gamblang atau common sense dari sebuah tanda. Makna konotatif mengacu pada asosiasi-asosiasi budaya sosial dan personal berupa ideologis, emosional dan lain sebagainya.

semiologi-021

Gambar  Semiologi Roland Barthes

Barthes mencontohkan istilah “mawar”. Sebagai signifier ádalah kata “mawar” itu sendiri (citra suara). Berfungsi sebagai signified adalah objeknya (bentuknya) “wujud bunga mawar” sebagai konsep (mental). Ketika kedua hal tersebut digabungkan akan terwujud sign (1), yaitu “mawar” sebagai entitas kongkrit. Dan mawar sebagai entitas kongkrit, ketika dikaitkan atau dikonotasikan secara arbitrer dengan hasrat (passion) akan menghasilkan SIGN (III) yang berarati sudah menjadi mitos. secara sederhana pada sign (3) mengandung makna denotatif dan pada SIGN (III) mengandung makna konotatif.

Barthes dalam menjelaskan membaca teks ”visual” menggunakan contoh seorang negro yang memberi hormat pada sampul majalah Paris Match. Di situ digambarkan seorang bocah negro dengan seragam khas Perancis sedang berdiri memberi hormat dengan latar belakang bendera kebangsaan Perancis. semiologi-03

Gambar Sampul majalah Paris Match

Pada semiologi tingkat pertama, gambar majalah itu tidak mengandung penafsiran apapun kecuali sebatas yang terlihat, yaitu bocah negro yang atribut seragam Perancis yang tengah memberi hormat pada bendera Perancis. Penghormatan itu layak dilakukan, karena perancis adalah sebuah negara besar, bahwa semua yang berada dalam naungannya adalah anak-anak ibu pertiwi, tanpa diskriminasi dan warna kulit. Tetapi pada semiologi tingkat dua memiliki penafsiran seorang yang memberi hormat kepada bendera Perancis tersebut tidak sekedar memberi hormat akan tetapi ada makna-makna lain di balik itu. Misalnya saja mengapa anak negro yang dipilih? Mengapa dia memakai atribut khas Perancis, mengapa sorot mata agak ke atas? Semua itu jeli ditafsirkan oleh Roland Barthes dengan mengaitkan berbagai fakta penunjang. Seperti misalnya situasi politik masa itu, di mana Perancis tengah mengalami konfrontasi dengan atau tepat di tengah menjajah Aljazair, yang notabene adalah warganya kulit hitam. Sementara perlawanan Aljazair telah berujung pada kemenangan. Sementara itu telah menunjukan realitas bahwa Perancis adalah salah satu negara imprealis penjajah yang wilayah negeri jajahannya sebagian besar adalah kulit hitam. Frustasi yang tersembunyi dari Perancis, ” dilipur” dengan visusalisasi sampul majalah Paris Match, yang sebenarnya hanyalah mitos tentang keagungan imprealitas Perancis.

Mengakhiri paparannya, Barthes menegaskan bahwa mitos adalah sarana mendistorsikan fakta sehingga masyarakat akan menerima begitu saja tanpa perlawanan. Inilah yang diinginkan oleh apa yang disebut oleh Barthes dengan norma-norma borjuisi khas milik ideologi kapitalisme. Maka mitosisasi adalah bungkus yang dibutuhkan, dikekalkan, diperkuat mendukung sistem maenstrem modern secara ideologis. Disinilah barthes menunjukkan ketika kebudayaan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks, maka ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut pandang dan lain-lain. Dan dibalik penanda-penanda yang ada ideologi memerankan sebuah kontruksi budaya yang terwujud dalam karya-karya DKV sebagai bentuk dari komunikasi masa yang sangat dipengaruhi sistem sosial ekonomi bahkan politik sebuah masyarakat. Mengakhiri artikel kali ini penulis ingin mengutip sebuah tuliasan dari Yasraf Amir Piliang dalm bukunya Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004, hlm. 327, menyatakan bahwa Tugas seorang cendekiawan justru adalah menjadikan semiotika sebagai suatu metode untuk menegakkan yang hak dan mendekonntruksi yang bathil. Sehingga sebuah alat atau ilmu bagi cendekiawan merupakan sebuah bentuk pertanggungjawaban intelektual yang harus memberikan kontribusi positif bagi terciptanya budaya yang manusiawi sesuai kodrat manusia sebagai makhluk berakal yang diciptakan Tuhan.

Catatan:

Ideologi sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Greek, terdiri atas kata idea dan logia. Idea bersal dari kata idein yang berarti melihat. Idea dalam Webster’s New Collogiate Dictionary berarti ” something existing in the mind as the result of the formulation of an opinion, a plan or the like” (sesuatu yang ada dalam pikiran sebagai hasil dari perumusan sesuatu pemikiran atau rencana). Sedangkan logis bersal dari kata logos yang berarti word. Kata ini berasal dari kata legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjunya kata logia berarti science (pengetahuan) atau teori. Jadi menurut arti kata pengucapan dari yang terlihat atau pengutaraan apa yang terumus dalam pikiran sebagai hasil dari pemikiran (Sukarna, 1981:1)1 Meminjam pandangan filosof matrealis (komunis) Marx mengatakan ideologi adalah kesadaran palsu; kesadaran yang mengacu pada nilai-nilai moral tertinggi dengan sekaligus menutup kenyataan bahwa di belakang nilai-nlai luhur tersembunyilah kepentingan-kepentingan egois kelas-kelas berkuasa. Jadi ideologi sebagai teori yang menunjang kepentingan yang tidak dapat dilegetimasi secara wajar.

Daftar Pustaka

Amir Piliang, Yasraf, ,Hiper Semiotika : Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003

Amir Piliang, Yasraf, Dunia Yang Dilipat tamasya melampaui batas-batas kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004.

Barthes, Roland, S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang 1974

Budiman, Kris, Semiotika Visual, Yogyakarta, Buku Baik dan Yayasan Seni Cemeti, 2004.

Fiske, John, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.

Sobur, Alex , Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Dan Analisis Framing, PT. Remaja Rosda Karya Offset, Bandung, 2006.

Tinarbuko, Sumbo, Semiotika Komunikasi Visual, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.


Des 31 2008

Semiotika dan Desain Komunikasi Visual

Semiotika Pemanfaatan Dan Penerapannya
Pada Desain Komunikasi Visual

Oleh Kismiaji, S.Sn.
Surabaya, 26 desember 08

Artikel ini dibuat atas pertanyaan yang disampaikan oleh pengunjung blog ini.

Sekilas lagi memahami Semiotik.
Semiotik secara etimologi berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ”tanda”. Secara terminologi semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan bentuk dari tanda- tanda. Semiotik juga mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti.

Pengertian di atas sejalan dengan apa yang dekemukakan oleh Ferdinand de Saussure yang mendefinisikan semiotika (semiologi) sebagai ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Secara implisit dari pengertian ini menunjukkan relasi bahwa bila tanda adalah bagian kehidupan sosial, maka tanda merupakan bagian dari aturan-aturan yang berlaku (kode). Ada system tanda (sign system) dan social system yang saling berkaitan, inilah yang disebut sebagai konvensi sosial (social convention) yang mengatur tanda secara sosial, yaitu pemilihan, pengkombinasian dan penggunaan tanda-tanda dengan cara tertentu, sehingga ia mempunyai makna dan nilai sosial.

Menurut Saussure tanda mempunyai dua entitas, yaitu signifier dan signified atau wahana tanda dan makna atau penanda dan petanda (signifier+signified= sign). coba perhatikan karya berikut: apa yang dapat kita tangkap dari gambar (penanda) hati (heart) yang memiliki petanda sebagai cinta ( love), dan sebagainya.

yulia-g2-hearts-small.jpg

Yulia Brodskaya paper work: http://www.graphic-exchange.com

Sedangkan semiotik bagi Peirce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (Influence), atau kerja sama tiga subjek yaitu tanda (sign), objek (object) dan interpretan (interpretant). Yang dimaksud pada semiotika pada semiotika Peirce bukan subjek manusia, tetapi tiga entitas semiotik yang sifatnya abstrak yang tidak dipengaruhi oleh kebiasaan komunikasi secara kongkrit.

Menurut Peirce tanda adalah … some thing wich stands to some body for some thing in some respect or capacity (tanda adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas). Dalam hal ini tanda menurut Peirce menggunakan model triadic (representament + object + interpretant = sign)
Contoh misalnya kita melihat tanda ”gambar bibir” yang merah basah dan setengah terbuka (sexy lips) maka akan tebentuk proses tiga tingkatan (three-fold process) di antaragambar bibir sebagai representamen, bibir sebenarnya sebagai objek,dan  interpretan (bibir) yang dikenal sebagai proses semiosis

Lalu Bagaimana pemanfaatan dan Penerapan semiotika pada Desain Komunikasi Visual?
Berbicara pemanfaatan semiotika pada desain Komunikasi visual kita akan membicarakan terdahulu tentang komunikasi, Desain Komunikasi Visual dan desainer sebagai pelaku/subjek yang memproduksi tanda.

Pertama
Untuk memahami komunikasi terkait dengan semiotik kita dapat meminjam asumsi John Fiske dalam Cultural and Communication Studies, menyatakan bahwa semua komunikasi melibatkan tanda (sign) dan kode (codes). Tanda adalah artefak atau tindakan yang merujuk pada sesuatu pesan yang lain di luar tanda itu sendiri. Sedangkan Kode adalah sistem dimana tanda-tanda diorganisasikan dan menentukan bagaimana tanda-tanda itu berhubungan satu sama lain. Contoh dalam kehidupan sehari-hari kita misalnya lampu merah sebagai contoh pengorganisasian tanda ke dalam kode. Dalam pandangan semiologi milik Saussure rambu lalu lintas adalah bentuk paradigma (kumpulan tanda) yang dipergunakan secara sintagmatik menjadi susunan tanda yang terpadu dan dipilih untuk dipergunakan dalam sistem kode (konvensi).

Kedua
Definisi Komunikasi visual (visual communication) ialah: komunikasi yang menggunakan bahasa visual, dimana unsur dasar bahasa visual (yang menjadi kekuatan utama dalam menyampaikan komunikasi adalah segala sesuatu yang dapat dilihat dan dapat dipakai untuk menyampaikan arti, makna, atau pesan.

Ketiga
Lebih sepesifik lagi definisi Desain Komunikasi Visual adalah ilmu yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual, termasuk audio dengan mengolah elemen desain grafis berupa bentuk dan gambar, huruf dan warna, serta tata letaknya, sehingga pesan dan gagasan dapat diterima oleh sasarannya

Sedangkan Metodologi dalam desain komunikasi visual adalah merupakan sebuah proses kreatif desainer baik perorangan ataupun dalam sebuah tim untuk menemukan dan memecahkan masalah /problem solving sebuah komunikasi visual.

Seperti halnya komunikasi pada umumnya, seorang desainer sesungguhnya melakukan proses komunikasi yang ditujukan dengan target audience melalui karya yang dihasilkan (sebagai tanda yang diproduksi). Dengan menggunakan media kreatif seorang desainer menerjemahkan pesan dari klien ke dalam berbagai macam bentuk tanda yang ditujukan kepada target audience berdasar konvensi (sistem kode) yang ada di tengah-tengah masyarakat, di mana karya desain akan dipublikasikan. Penerjemahan pesan (message) dari klien (pengiklan) menjadi tanda-tanda atau simbol tertentu pada karya desain iklan dalam proses komunikasi ini disebut sebagai proses encoding. Kemudian desain inilah yang membawa pesan verbal dan visual secara kreatif dan efektif kepada konsumen dengan harapan makna pesan sama seperti apa yang diharapkan oleh pengiklan.

Sedangkan pada saat karya desain telah diproduksi siapapun bisa membaca dan menafsirkan, maka proses interpretasi yang kita lakukan konsumen terhadap pesan ini disebut sebagai decoding dalam proses komunikasi.

Semua aktivitas komunikasi melibatkan delapan elemen sebagai berikut
1. sumber (source)
2. penerjemahan (encoding)
3. pesan (message)
4. saluran penyampaian (message chanel)
5. penerima (receiver)
6. interpretasi (interpretation)
7. gangguan (noice)
8. umpan balik (feed back)

Kita bisa mengambil contoh, apabila seseorang menuturkan kata atau image, maka sesungguhnya ia telah terlibat di dalam sebuah proses ”produksi tanda’, yang mempekerjakan tanda-tanda yaitu, memilih, menyeleksi, menata dan mengkombinasikan dengan cara dan aturan main tertentu/kode yang berlaku). Ketika orang lain membaca, kata (image) tersebut maka ia menggunakan tenaga kerja interpretsasi dengan cara mengerahkan segala kemampuan baca dan kode yang dipahaminya dalam rangka mamemahami kata atau imge tersebut. Dan di sinilah proses komunikasi yang menjadikan tanda (representamen) sebagai sarana pembawa pesan yang akan diterima oleh orang lain dan mengandung arti tertentu.

Pemanfaatan dan penerapan semiotika pada ranah Desain Komunikasi Visual, dapat dilihat dari usaha mengkomunikasikan pesan dengan menggunakan tanda (representament) sebagai unsur utama karya desain. Tanda di sini terwujud dalam bentuk tanda verbal dan non verbal yang diproduksi oleh seorag desainer; tanda verbal berupa pesan verbal (ucapan) yang terwakili baik suara atau tulisan, sedang tanda non verbal (visual) berupa gambar yang terangkai yang membawa pesan yang juga terkait dengan pesan yang disampaikan. Dari pesan yang disampaikan senantiasa memuat beberapa penanda berupa tulisan dan gambar yang mengacu pada makna yang sama. Terjadinya beberapa tanda (representament) yang mengacu pada satu interpretan disebut sebagai super sign. perhatikan   iklan mie ABC berikut:

selera-pedas21

Product Mi ABC Selera Pedas: bluebandholic3

BlueBandholic, Lowe Design: http://iklanindonesia.blogspot.com

 http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_grafis

 


Okt 15 2008

Definisi Desain Komunikasi Visual

Mengenal DeKave lebihDekat?
Oleh Kismiaji, S.Sn.
Surabaya, 15 oktober 08

Ya…. Desain Komunikasi Visual saat ini mungkin semua orang sudah sering mendengar istilah ini, namun masih saja banyak yang belum mengetahui betul istilah tersebut dan sejauh mana ruang lingkup hingga pengaruhnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagian orang secara sempit  menafsirkan Desain Komunikasi Visual identik dengan tukang reklame atau pekerjaan tukang bikin iklan di sepanjang jalan dengan papan nama yang bertuliskan advertising “ menerima pesanan sepanduk satu jam jadi, cetak undangan, sablon dll. Ya.. itulah gambaran sekilas dari sebagian masyarakat kita, sehingga mereka memandang sebelah mata orang yang bergelut di dunia desain.

Ada juga sebagian orang mengira bahwa Desain Komunikasi Visual (DKV) itu identik dengan iklan. Memang tidaklah salah pernyataan tersebut, namun tidak sepenuhnya benar. Iklan hanya salah satu bidang yang dihasilkan oleh desain komunikasi visual.

Tetapi bagi kalangan praktisi periklanan dan dunia akademik di bidang komunikasi istilah ini telah dikenal, walaupun Desain Komunikasi Visual merupakan istilah yang baru. Kalangan akademis menyebutnyapun beragam, ada yang menyebut sebagai DKV (Dekave) atau DISKOM, yang merupakan akronim dari Desain Komunikasi Visual.

Tanpa kita sadari Apabila melihat penampakan visual di sekeliling kita, sebenarnya kehidupan kita sehari-hari dilingkupi oleh produk-produk bidang Desain Komunikasi Visual. Mulai dari kita bangun di pagi hari hingga terlelap di peraduan, desain komunikasi visual mengiringi kita sepanjang hari hidup kita, baik di perkotaan hinggga pelosok pelosok desa di negeri ini bahkan dari runag pribadi hingga ruang publik.

Etimologi Desain Komunikasi Visual
Jika kita memulai mendefinisikan Desain Komunikasi Visual ditinjau dari asal kata (etimologi) istilah ini terdiri dari tiga kata, desain diambil dari kata “designo” (Itali) yang artinya gambar. Sedang dalam bahasa Inggris desain diambil dari bahasa Latin designare) yang artinya merencanakan atau merancang. Dalam dunia seni rupa istilah desain dipadukan dengan reka bentuk, reka rupa, rancangan atau sketsa ide.

Kemudian kata komunikasi yang berarti menyampaikan suatu pesan dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan) melalui suatu media dengan maksud tertentu. Komunikasi sendiri berasal dari bahasa Inggris communication yang diambil dari bahasa Latin “communis” yang berarti “sama” (dalam Bahasa Inggris:common). Kemudian komunikasi kemudian dianggap sebagai proses menciptakan suatau kesamaan (commonness) atau suatau kesatuan pemikiran antara pengirim (komunikator) dan penerima (komunikan).

Sementara kata visual sendiri bermakna segala sesuatu yang dapat dilihat dan direspon oleh indera penglihatan kita yaitu mata. Berasal dari kata Latin videre yang artinya melihat yang kemudian dimasukkan ke dalam bahasa Inggris visual.

Jadi Desain Komunikasi Visual bisa dikatakan sebagai seni menyampaikan pesan (arts of commmunication) dengan menggunakan bahasa rupa (visual language) yang disampaikan melalui media berupa desain yang bertujuan menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah perilaku target audience sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Sedang Bahasa rupa yang dipakai berbentuk grafis, tanda, simbol, ilustrasi gambar/foto, tipografi/huruf dan sebagainya yang disusun berdasarkan kaidah bahasa visual yang khas berdasar ilmu tata rupa. Isi pesan diungkapkan secara kreatif dan komunikatif serta mengandung solusi untuk permasalahan yang hendak disampaikan (baik sosial maupun komersial ataupun berupa informasi, identifikasi maupun persuasi).

Dalam Buku Pengantar Metode Penelitian Budaya Rupa Agus Sachari menjelaskan Desain Komunikasi Visual adalah Profesi yang mengkaji dan mempelajari desain dengan berbagai pendekatan baik hal yang menyangkut komunikasi, media, citra tanda maupun nilai.
Desain komunikasi Visual juga mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi dan pesan, teknologi percetakan, penggunaan teknologi multimedia dan teknik persuasi pada masyarakat.
Ruang lingkup Desain Komunikasi Visual Meliputi:
1. Advertising (periklanan)
2. Animasi
3. Desain identitas Usaha (corporate identity)
4. Desain Marka lingkungan
5. Multimedia
6. Desain Grafis Industri (promosi)
7. Desain Grafis Media (buku, surat kabar, majalah, dll0
8. Cergam (komik, karikatur, Poster)
9. Fotografi, tipografi dan ilustrasi

Sekilas Sejarah Istilah Desain Komunikasi Visual di Indonesia

Istilah desain komunikasi visual yang baru populer belakangan ini, sebenarnya baru dikenal di Indonesia pada awal tahun 1980-an. Dimunculkan oleh Gert Dumbar (seorang desainer grafis Belanda) pada tahun 1977, karena menurutnya desain grafis tidak hanya mengurusi cetak-mencetak saja. Namun juga mengurusi moving image, audio visual, display dan pameran. Sehingga istilah desain grafis tidaklah cukup menampung perkembangan yang kian luas. Maka dimunculkan istilah desain komunikasi visual seperti yang kita kenal sekarang ini.

Apa Beda Desain Komunikasi Visual dan Desain Grafis?

Banyak orang seringkali bingung dengan beberapa istilah yang hampir sama. Kita seringkali mendengar tentang istilah yang hampir mirip selain desain komunikasi visual, yaitu desain grafis dan seni grafis.

Istilah desain komunikasi visual sendiri sudah dijelaskan di atas. Sedangkan desain grafis sendiri memang salah satu istilah yang paling sering disalahtukarkan dengan Desain komunikasi visual. Memang keduanya sangat berhubungan erat, namun sebenarnya ada perbedaan di antara keduanya.

Desain grafis
Desain grafis atau Graphic Design. Kata grafis menurut etimologi adalah berasal dari kata graphic (bahasa Inggris) yang berasal dari bahasa Latin graphē (yang diadopsi kata Yunani graphos), yang berarti menulis, menggores atau menggambar di atas batu.
Desain sendiri merupakan proses pemikiran dan perasaan yang akan menciptakan sesuatu, dengan menggabungkan fakta, konstruksi, fungsi dan estetika untuk memenuhi kebutuhan manusia atau Desain grafis juga bias diartikan suatu konsep pemecahan masalah rupa, warna, bahan, teknik, biaya, guna dan pemakaian yang diungkapkan dalam gambar dan bentuk.

Dalam desain grafis masalahnya mencakup berbagai bidang seperti teknik perencanaan gambar, bentuk, simbol, huruf, fotografi dan proses cetak disertai pula dengan pengetahuan tentang bahan dan biaya. Biasanya Desain grafis biasanya diterapkan untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur tetapi sejalan dengan perkembangan zaman, desain grafis juga diterapkan dalam media elektronik, yang sering kali disebut sebagai desain interaktif atau desain multimedia.

Tujuan desain grafis selain menciptakan desain atau perencanaan fungsional estetis, namun juga yang informatif dan komunikatif dengan masyarakat yang dilengkapi pula dengan pemahaman mengenai psikologi massa dan teori-teori pemasaran, sehingga karya-karya desain grafis ini bisa merupakan alat promosi yang ampuh.

Dari sinilah Desain grafis juga seperti jenis desain lainnya merujuk kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan (desain).

Orang yang berkarya di bidang desain grafis maka disebut sebagai desainer grafis (graphic designer), namun anehnya orang yang bekerja di bidang desain komunikasi visual, sangat jarang sekali disebut sebagai desainer komunikasi visual. Biasanya sebutan yang diberikan tetap saja desainer grafis.

Saat ini Desain Grafis menggunakan piranti Software antara lain:
Desktop publishing:Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, Adobe Indesign, Coreldraw, GIMP, Inkscape, Macromedia Freehand

Web design:Macromedia Dreamweaver, Microsoft Frontpage, Notepad

Audio visual : Adobe After Effect, Adobe Premier, Final Cut, Adobe Flash, atau sebelumnya Macromedia Flash

Rendering 3 Dimensi : 3D StudioMax, Maya, AutoCad

Seni Grafis
Seni grafis - sedangkan seni grafis (dan ini paling sering disalahartikan sama sebagai desain grafis) adalah masuk ke dalam seni murni (fine arts). Sementara desain grafis masuk ke dalam kelompok seni terapan (applied arts). Ya, dalam khazanah seni, ada penggolongan seni menjadi seni murni dan seni terapan. Disebut sebagai seni murni adalah jika tujuan penciptaan seni adalah untuk semata-mata untuk kepuasan bathin dan ekspresi sang seniman semata. Sedangkan seni terapan adalah seni yang tujuan penciptaannya adalah untuk memenuhi suatu kebutuhan.

Seni grafis adalah cabang seni rupa yang proses pembuatan karyanya menggunakan teknik cetak, biasanya di atas kertas. Kecuali pada teknik Monotype, prosesnya mampu menciptakan salinan karya yang sama dalam jumlah banyak, ini yang disebut dengan proses cetak. Tiap salinan karya dikenal sebagai ‘impression’. Lukisan atau drawing, di sisi lain, menciptakan karya seni orisinil yang unik.

Media Seni Grafis
Media yang digunakan dalam seni Grafis berupa tinta ber-basis air, cat air, tinta ber-basis minyak, pastel minyak, dan pigmen padat yang larut dalam air seperti crayon Caran D’Ache.
Karya seni grafis diciptakan di atas permukaan yang disebut dengan plat. Teknik dengan menggunakan metode digital menjadi semakin populer saat ini. Permukaan atau matrix yang dipakai dalam menciptakan karya grafis meliputi papan kayu, plat logam, lembaran kaca akrilik, lembaran linoleum atau batu litografi. Teknik lain yang disebut dengan serigrafi atau cetak saring (screen-printing) menggunakan lembaran kain berpori yang direntangkan pada sebuah kerangka, disebut dengan screen. Cetakan kecil bahkan bisa dibuat dengan menggunakan permukaan kentang atau ketela.

Referensi:

Carter, David E., Designing Corporate Identity Programs for Small Corporation, Art Direction Book Company, New York, 1985.

KBBI/Tim Penyusun pusat Bahasa, ed.3.-cet.3.-Jakarta, balai Pustaka, 2005.

Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001.

Sachari, Agus, pengantar Metode Penelitian Budaya Rupa dan Desain (Arsitektur, Seni Rupa, dan Kriya), Jakarta, penerbit Erlangga, 2005…

Shimp, Terence, Periklanan dan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu, Jakarta, penerbit Erlangga, 2003.

Sihombing, Danton, Tipografi dalam Desain Grafis, Gramedia, Jakarta, 2001.

 http://id.wikipedia.org/wiki/Desain_graf…

 http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_grafis

 


Sep 25 2008

semiotika

Semiotika adalah cabang ilmu yang semula berkembang dalam bidang bahasa.Dalam perkembangannya kemudian semiotika bahkan merasuk pada semua segikehidupan umat manusia. Semiotika menurut Zoest (1992) adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya; cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda yang lain, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.

Charles Sanders Peirce (Zoest, 1992), ahli filsafat dan tokoh terkemuka dalam semiotika modern Amerika menegaskan bahwa manusia hanya dapat berfikir dengan sarana tanda, manusia hanya dapat berkomunikasi dengan sarana tanda. Tanda yang dimaksud dapat berupa tanda visual yang bersifat non-verbal, maupun yang bersifat verbal.

Semiotika adalah ilmu tanda, istilah ini berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Winfried Noth (1993:13) menguraikan asal-usul kata semiotika; secara etimologi semiotika dihubungkan dengan kata Yunani sign = sign dan signal = signal, sign .

Tanda terdapat dimana-mana : ‘kata’ adalah tanda, demikian pula gerak isyarat, lampu lalu lintas, bendera dan sebagainya. Struktur karya sastra, struktur film, bangunan (arsitektur) atau nyanyian burung dapat dianggap sebagai tanda. Segala sesuatu dapat menjadi tanda.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tanpa sadar telah mempraktekkan semiotika atau semiologi dalam komunikasi. Misalkan saja ketika kita melihat lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah maka otomatis kita menghentikan kendaraan kita, dan kita memaknai lampu hijau artinya jalan. Atau pada rambu-rambu lalu lintas tanda P dicoret maka kita tahu bahwa kita tidak boleh memarkirkan kendaraan di lokasi tersebut. Ketika kita memaknai tanda P dicoret itu, kita telah berkomunikasi, kita telah melakukan proses pemaknaan terhadap tanda (sign) tersebut.

Dalam komunikasi massa, semua bentuk dan isi media massa pada dasarnya adalah tanda. Iklan adalah tanda, berita adalah tanda, foto adalah tanda, film adalah tanda, suara penyiar radio adalah tanda, presenter adalah tanda, bahkan pesawat televisi itu sendiri juga merupakan tanda.

Menurut John Fiske (1990) semiologi memiliki tiga bidang studi utama. Pertama, tanda itu sendiri. Hal iini terdiri atas studi tentang berbagai tanda yang berbeda, cara tanda-tanda yang berbeda itu dalam menyampaikan makna, dan cara tanda-tanda itu terkait dengan manusia yang menggunakannya. Tanda adalah konstruksi manusia dan hanya bisa dipahami dalam artian manusia yang menggunakannya. Kedua, kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda. Studi ini mencakup cara berbagai kode dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu masyarakat atau budaya atau untuk mengekspolitasi saluran komunikasi untuk mentransmisikannya. Ketiga, kebudayaan atau tempat kode tanda bekerja. Ini gilirannya tergantung pada penggunaan kode-kode dan tanda-tanda itu untuk keberadaan dan bentuknya sendiri.

Dalam semiologi, penerima atau pembaca pesan, dipandang memiliki peran yang aktif, dibandingkan dalam paradigma transmisi di mana mereka dianggap pasif. Semiologi lebih suka memilih istilah “pembaca” untuk komunikan, karena “pembaca” pada dasarnya aktif dalam menciptakan pemaknaan teks atau tanda (sign) dengan membawa pengalaman, sikap, emosi terhadap teks atau tanda tersebut (Fiske, 1990).

Diantara sekian banyak pakar tentang semiotika ada dua orang yaitu Charles Sanders Peirce (1839-1914) dan Ferdinand de Saussure (1857-1913) yang dapat dianggap sebagai pemuka-pemuka semiotika modern (Noth 1990:39). Kedua tokoh inilah yang memunculkan dua aliran utama semiotika modern : yang satu menggunakan konsep Peirce dan yang lain menggunakan konsep Saussure. Ketidaksamaan itu mungkin terutama disebabkan oleh perbedaan yang mendasar : Peirce adalah ahli filsafat dan ahli logika, sedangkan Saussure adalah cikal-bakal linguistik umum. Pemahaman atas dua gagasan ini merupakan syarat mutlak bagi mereka yang ingin memperoleh pengetahuan dasar tentang semiotika.

Menurut Peirce kata ‘semiotika’, kata yang sudah digunakan sejak abad kedelapan belas oleh ahli filsafat Jerman Lambert, merupakan sinonim kata logika. Logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar. Penalaran, menurut hipotesis Pierce yang mendasar dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda memungkinkan manusia berfikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Semiotika bagi Pierce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence) atau kerja sama tiga subyek yaitu tanda (sign), obyek (object) dan interpretan (interpretant).

Di sisi lain, Saussure mengembangkan bahasa sebagai suatu sistim tanda. Semiotik dikenal sebagai disiplin yang mengkaji tanda, proses menanda dan proses menandai. Bahasa adalah sebuah jenis tanda tertentu. Dengan demikian dapat dipahami jika ada hubungan antara linguistik dan semiotik. Saussure menggunakan kata ‘semiologi’ yang mempunyai pengertian sama dengan semiotika pada aliran Pierce. Kata Semiotics memiliki rival utama, kata semiology. Kedua kata ini kemudian digunakan untuk mengidentifikasikan adanya dua tradisi dari semiotik. Tradisi linguistik menunjukkan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan nama-nama Saussure sampai Hjelmslev dan Barthes yang menggunakan istilah semiologi. Sedang yang menggunakan teori umum tentang tanda-tanda dalam tradisi yang dikaitkan dengan nama-nama Pierce dan Morris menggunakan istilah semiotics. Kata Semiotika kemudian diterima sebagai sinonim dari kata semiologi (Istanto, 2000).

Ahli-ahli semiotika dari aliran Saussure menggunakan istilah-istilah pinjaman dari linguistik. Pada masa sesudah Saussure, teori linguistik yang paling banyak menandai studi semiotik adalah teori Hjelmslev, seorang strukturalist Denmark. Pengaruh itu tampak terutama dalam ‘semiologi komunikasi’. Teori ini merupakan pendekatan kaum semiotika yang hanya memperhatikan tanda-tanda yang disertai maksud (signal) yang digunakan dengan sadar oleh mereka yang mengirimkannya (si pengirim) dan mereka yang menerimanya (si penerima). Para ahli semiotika ini tidak berpegang pada makna primer (denotasi) tanda yang disampaikan, melainkan berusaha untuk mendapatkan makna sekunder (konotasi) (Istanto, 2000).

Menurut Saussure, tanda mempunyai dua entitas, yaitu signifier (signifiant / wahana tanda / penanda / yang mengutarakan / simbol) dan signified (signifie / makna / petanda / yang diutarakan / thought of reference). Tanda menurut Saussure adalah kombinasi dari sebuah konsep dan sebuah sound-image yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara signifier dan signified adalah arbitrary (mana suka). Tidak ada hubungan logis yang pasti diantara keduanya, yang mana membuat teks atau tanda menjadi menarik dan juga problematik pada saat yang bersamaan (Berger, 1998: 7-8).

Menurut Peirce (dalam Hoed,1992) tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman, pikiran, gagasan atau perasaan. Jika sesuatu, misalnya A adalah asap hitam yang mengepul di kejauhan, maka ia dapat mewakili B, yaitu misalnya sebuah kebakaran (pengalaman). Tanda semacam itu dapat disebut sebagai indeks; yakni antara A dan B ada keterkaitan (contiguity). Sebuah foto atau gambar adalah tanda yang disebut ikon. Foto mewakili suatu kenyataan tertentu atas dasar kemiripan atau similarity (foto Angelina Jolie, mewakili orang yang bersangkutan, jadi merupakan suatu pengalaman). Tanda juga bisa berupa lambang, jika hubungan antara tanda itu dengan yang diwakilinya didasarkan pada perjanjian (convention), misalnya lampu merah yang mewakili “larangan (gagasan)” berdasarkan perjanjian yang ada dalam masyarakat. Burung Dara sudah diyakini sebagai tanda atau lambang perdamaian; burung Dara tidak begitu saja bisa diganti dengan burung atau hewan yang lain, dan seterusnya (Istanto, 2000).

Ketika semua bentuk komunikasi adalah tanda, maka dunia ini penuh dengan tanda. Ketika kita berkomunikasi, kita menciptakan tanda sekaligus makna. Dalam perspektif semiologi atau semiotika, pada akhirnya komunikasi akan menjadi suatu ilmu untuk mengungkapkan pemaknaan dari tanda yang diciptakan oleh proses komunikasi itu sendiri.

Daftar Pustaka:

Berger, Arthur Asa, Media Analysis Techniques, 2nd edition, Thousand Oakes: Sage, 1998.

Fiske, John, Introduction to Communication Studies, 2nd edition, London: Routledge, 1990

Istanto, Freddy H., Rajutan Semiotika untuk Sebuah Iklan; Studi Kasus Iklan Long Beach, Jurnal Nirmana Vol. 2, No. 2, Juli 2000, dikutip dari